Rabu, 25 Februari 2015

Teknologi Irit Bahan Bakar Blue Core Yamaha Mio M3 125

Baru-baru ini Yamaha Indonesia genjar melakukan promosi dimana-mana baik melalui majalah, banner dijalan, bahkan di televisi mengenai varian terbarunya Yamaha Mio M3 125. Yang menarik sebenarnya bukan seri jenis motornya tetapi teknologi hemat bahan bakar yaitu "Blue Core" sehingg diklaim mampu menghemat bahan bakar.

Teknologi Blue Core Yamaha Mio M3 125

Mengenal teknologi Blue Core pada motor matik terbaru Yamaha ini sudah seharusnya kita ketahui, pada dasarnya teknologi Blue Core ini bukan merupakan sebuah chip yang khusus untuk memprogram sistem mesin dan CVT pada motor matik Yamaha. Melainkan, bahwa teknologi Blue Core ini merupakan sebuah filosofi atau metode untuk mengoptimalkan kinerja motor secara keseluruhan mulai dari mesin, bodi, sasis atau rangka, hingga transmisi.

Seperti diketahui, Yamaha Mio M3 125 memiliki berat mesin hanya 32,6 kg saja, sementara rangkanya di desian 30 persen lebih ringan. Sehingga berat kosong motor matik ini hanya 88 kg saja, cukup ringan bukan? Dengan mesin berkapasitas 125 cc untuk sekelas motor matik dapat menghasilkan tenaga lebih handal.

Sebenarnya ada tiga kunci utama pada teknologi Blue Core ini sehingga mampu menghasilkan tenaga lebih meningkat dengan konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit. Salah satunya yakni membuat bobot motor menjadi lebih ringan dengan mengubah desain sasis, serta mengganti komponen mesin dengan bahan-bahan yang lebih ringan.

Dengan mengubah desain katup dan injector bahan bakar membuat proses pembakaran lebih sempurna, maka emisi gas buang yang dihasilkan menjadi semakin sedikit sehingga lebih ramah lingkungan. Yamaha pun mendesain sirip pelepas panas lebih luas dan rapat, serta sistem pendingin mesin yang menggunakan oli dan air semakin disempurnakan tujuannya agar energy yang dihasilkan mesin tidak banyak yang terbuang menjadi energy panas.

Filosofi teknologi Blue Core ini memiliki kemiripan dengan teknologi SkyActiv yang dimiliki oleh mobil Mazda 2 SkyActiv terbaru, yaitu peningkatan Power-to-Weight Ratio (PWR). Dimana penilaian PWR ini dihitung melalui perbandingan antara tenaga mesin dan bobot keseluruhan kendaraan. Sehingga semakin besar nilai PWR, maka akan semakin baik pula performa dan efisiensi bahan bakar yang akan dihasilkan.

Mio M3 dipacu konstan di atas mesin dynotest, hanya roda belakang yang berputar. Tali yang mengikat pegangan tangan penumpang belakang menganalogikan beban penumpang agar terasa seperti penggunaan sehari-hari. Kecepatan “dikunci” 35 kpj sesuai rata-rata pemakaian harian.  Metode penghitungan, dengan kecepatan 35 kpj maka dalam sehari (24 jam) Mio M3 diibaratkan menjelajah hingga 840 km. Bila dikalikan sebulan (30 hari) Mio M3 menempuh 25.200 km.

Yamaha menjelaskan selama pengujian tangki bahan bakar Mio M3 yang berkapasitas 4,2 liter diisi empat kali sehari, dengan penghitungan 14 liter per hari. Total selama sebulan menghabiskan 420 liter. Bila dikalkulasikan total jarak tempuh 25.200 km dibagi total bahan bakar 420 liter, maka kemampuan efisiensi Mio M3 mencapai 60 kpl. Mesin pertama milik YIMM berteknologi injeksi Blue Core ini lebih irit 50 persen dibanding generasi Mio sebelumnya yang masih menggunakan karburator. 

Indikator
Untuk membantu pengendara pada penggunaan nyata, Mio M3 dilengkapi Indikator Eco pada penunjuk kecepatan. Dengan mengikuti arahan “irit” pengendara bisa menghemat  bahan bakar hingga 60 persen.

The author of the blog Teknologivirtual

2 comments

harusnya di buat starter acg biar sempurna

Pasti ada nanti di Mio berikutnya gan


EmoticonEmoticon