Rabu, 02 Maret 2016

Pengertian Net Neutrality dan Pengaruhnya

Di beberapa negara di dunia seperi India telah memblokir layanan Facebook Gratis (Free Facebook) karena dianggap bertentangan dengan Net Neutrality. Lalu apa pengertian Net Neutrality itu sendiri? sebenarnya bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya Intenet Netral. Supaya Anda paham pengetian Net Neutrality dan Pengaruhnya bagi pengguna Intenet berikut ini Tekmologivirtual jelaskan.

Pengertian Net Neutrality dan Pengaruhnya

Pengertian Net Neutrality
Net Neutrality merupakan sebuah prinsip dimana penyedia jasa internet (ISP) seperti Telkom, Indosat, Biznet Network, atau XL Axiata harus bersikap adil terhadap semua penyedia konten internet (situs) dan tidak membatasi hak akses pelanggan. Ini berarti konten dari semua penyedia konten bisa diakses dengan kecepatan dan kualitas transmisi yang sama.

Sejarah Asal mula Net Neutrality
Isitilah Net Neutrality awalnya berasal dari tesis Tim Wu, seorang profesor dari Universitas Columbia yang membahas tentang diskriminasi broadband. Salah satu contoh kasus pelanggaran Net Neutrality yang fenomenal terjadi di Amerika serikat pada tahun 2008 ketika penyedia jasa internet terbesar di Amerika Serikat, Comcast, mengurangi kecepatan pelanggan mereka yang melakukan unduhan berkas menggunakan perangkat lunak Bittorrent. Kasus tersebut terus bergulir hingga pada tahun 2009, Comcast mengakui bahwa telah melakukan kesalahan tersebut dan menghentikannya pada tahun 2011.

Kasus serupa juga menimpa penyedia jasa sewa streaming film terkemuka di Amerika Serikat, Netflix, yang mendapati bahwa akses internet pelanggan ke jalur mereka dipangkas oleh Comcast karena dianggap boros data. Ini membuat pelanggan Netflix tidak bisa menikmati streaming film dengan kualitas tinggi (HD). Kasus ini berakhir dengan kesepakatan dimana Netflix harus membayar tambahan biaya ke Comcast untuk mendapatkan akses internet yang cepat dan stabil.

Tenologivirtual akan menjelaskan dengan contoh bagaimana Net Neutrality bekerja. Jadi apabila Anda mengakses situs Netflix, maka video akan dikirimkan dalam bentuk paket-paket data ke pengguna dan anggap saja ada 10 paket yang dikirimkan Netflix ke pengguna. Di saat yang bersamaan, anggap saja Anda juga sedang mengakses video dari YouTube, sehingga YouTube juga mengirimkan 10 paket ke pengguna.

Dari sini, ISP bertugas sebagai pengantar paket-paket tersebut. Dengan Net Neutrality, paket dari Netflix dan YouTube akan dikirimkan secara adil dengan jumlah dan waktu yang sama, sehingga tidak ada jeda antara video dari Netflix dan YouTube. Akan tetapi bila Net Neutrality tidak ada, misalnya Netflix membayar jalur internet ke Comcast, maka paket-paket yang dikirimkan Netflix akan didahulukan sehingga sampai ke pengguna lebih cepat dan akibatnya video dari YouTube akan terhambat. Jadi bisa dibayangkan apa yang akan terjadi apabila tidak ada Net Neutrality. Penyedia konten internet yang tidak memiliki banyak budget harus kehilangan akses karena tidak membayar akses internet ke ISP. Di sisi lain, netizen juga tentunya dirugikan dengan keberpihakan ISP tersebut.

Beberapa kasus yang secara tidak langsung berhubungan dengan pelanggaran Net Neutrality di tanah air adalah saat sejumlah operator seluler dan ISP secara sengaja menyisipkan iklan tanpa sepengetahuan dan persetujuan pelanggan. Hal tersebut bisa dibilang merupakan pembajakan akses internet pelanggan. Bagaimanapun, pelanggan tidak bisa berbuat apa-apa karena hal tersebut merupakan wewenang ISP sebagai pengelola layanan internet.

Isu Net Neutrality juga semakin menguat di Indonesia setelah Mark Zuckerberg secara resmi meluncurkan Internet.org di Indonesia, dan di saat bersamaan menuai kontroversi di India. Program tersebut dianggap bertentangan dengan Net Neutrality. Karena misalnya, Tokopedia masuk dalam program Internet.org, sementara Bukalapak tidak, maka Bukalapak sebagai kompetitor merasa dirugikan karena Internet.org menjadi sumber pengunjung tambahan bagi Tokopedia. Hal ini lah yang juga menja

Peraturan Hukum Net Neutrality
Pada tanggal 13 April lalu, Federal Communication and Commission (FCC) secara resmi menggulirkan uji coba peraturan Net Neutrality di Amerika Serikat selama 60 hari. Dalam regulasi tersebut diatur bahwa ISP di Amerika Serikat seperti AT&T, Verizon, dan Comcast dilarang melakukan pembatasan konten, mengurangi kecepatan internet, dan menerima suap dari penyedia konten internet untuk mempercepat akses.

Setiap regulasi pasti mempunyai pro dan kontra. Di satu sisi, regulasi Net Neutrality menguntungkan penyedia konten dan netizen dalam mengakses internet yang notabene sudah mereka bayar ke ISP. Di sisi lain, banyak ISP yang menentang regulasi Net Neutrality karena mereka tidak bisa mengontrol akses internet pelanggan seperti melakukan blokir situs, meminta biaya tambahan ke penyedia konten untuk mendapatkan jalur internet khusus, dan melakukan monitoring semua aktivitas akses internet pelanggan.

Debat Netralitas Internet
Kisruh netralitas internet ini sudah berlangsung lama. Terakhir, perdebatan masifnya terjadi pada 2014 silam. Kala itu Ketua Federal Communications Commission (FCC) Tom Wheeler berencana memberi otoritas bagi operator di Amerika Serikat (AT&T, Comcast, Verizon) untuk menciptakan sistem pay-to-play fast lanes. Sistem itu memungkinkan pengguna membayar lebih untuk mendapat akses prioritas (lebih cepat) ke layanan-layanan tertentu. Rencana kebijakan itu sontak memicu kontroversi. Netizen, aktivis, dan sebagian besar politisi bersuara menolak kebijakan yang dianggap diskriminatif pada pengguna internet tertentu dan pada layanan internet tertentu.

Alhasil, pada awal Februari 2015, Wheeler mengeluarkan paket rencana kebijakan bertajuk Title II of the Communication Act yang benar-benar berbeda dari rencana kebijakan sebelumnya. Isinya kurang lebih menjunjung akses internet yang adil bagi seluruh netizen. Proposal Wheeler diterima FCC dan ditetapkan keabsahannya pada 26 Februari 2015. Hal itu menjadi kemenangan bagi para aktivis netralitas internet dan netizen.

Kenapa Free Basics Facebook Melanggar Netralitas Internet?
Menurut pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg, Free Basics semata-mata bertujuan mengkoneksikan semua orang di dunia. Caranya dengan membuka akses internet gratis hingga ke wilayah-wilayah terpencil. Persoalannya, akses internet gratis itu tak berlaku bagi semua layanan yang eksis di jagat maya. Hanya beberapa layanan yang menumpang Free Basics yang diberi akses cuma-cuma. Antara lain Wikipedia, BBC, situs-situs kesehatan, laporan cuaca, Facebook, dkk.

Seiring banyaknya protes, Facebook pun melonggarkan akses internet gratisnya. Pada Mei 2015, Facebook membuka platform untuk pengembang aplikasi, sehingga siapa pun bisa merilis layanannya di dalam Free Basics. Dengan begitu, layanan yang digratiskan semakin banyak. Meski demikian, akan tetap ada layanan internet yang tak masuk dalam paket gratis Free Basics. Maka konsep prioritas dan diskriminasi layanan internet tetap terjadi. Karenanya, pemerintah India tak luluh dengan upaya Facebook. Free Basics tetap dinyatakan ilegal.

Pengaruh Net Neutrality Bagi Internet di Indonesia
Lalu apa pengaruhnya kekisruhan Net Neutrality bagi pengguna Internet Indonesia maupun para pengusaha? Bagaimanapun bentuk perundangan yang nanti akan ditetapkan (ataupun tidak) oleh FCC mengenai Net Neutrality, keputusan tersebut akan mempengaruhi bagaimana layanan-layanan bisnis yang operasionalnya secara hukum diatur oleh perundangan AS.

Notabene ini bakal mempengaruhi layanan-layanan yang sudah sangat jamak digunakan secara global, seperti layanan-layanan media sosial (Facebook dan Twitter), penyedia konten (YouTube, blog, dan platform blog), penyedia layanan komputasi berbasis cloud (Amazon AWS dan Akamai). Bisa dibilang semua bidang usaha yang mengalirkan layanannya melalui Internet ke seluruh Dunia, akan dipengaruhi oleh keputusan tentang Net Neutrality.

Mungkin saja Indonesia berusaha membentuk sebuah jaringan Internet yang terpisah dan tidak bergantung pada jaringan Internet yang berada di AS. Bisa dibilang itu yang telah dilakukan Korea Utara, tapi tentu Internet-nya Korea Utara bukanlah Internet-nya dunia. Jauh berbeda. Ini bukan solusi yang praktis, terlebih ketika salah satu manfaat terbesar Internet adalah sebagai jaringan komunikasi dan informasi yang bebas diakses oleh siapa saja di dunia. Semakin sedikit sudut dunia yang bisa dijangkau Internet kita bersama, semakin berkurang manfaat Internet.

Keputusan Amerika Serikat tentang jaringan Internet mereka, mau tidak mau pasti juga mempengaruhi Internet di Indonesia. Mengikuti perdebatan tentang Net Neutrality akan terasa terlalu legal formal, rumit, bahkan mungkin membosankan, tapi ada baiknya tetap kita perhatikan. Selama Internet di Amerika Serikat masih sangat diandalkan oleh jaringan Internet global, selama itu pula keputusan-keputusan hukum di Amerika Serikat berkait pengaturan Internet juga akan mempengaruhi seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Dikutip dari berbagai sumber

The author of the blog Teknologivirtual


EmoticonEmoticon